Pages

Jumat, 09 Maret 2012

sisi lain banyuwangiku

Kawah Ijen yang terletak di Gunung Ijen, Banyuwangi - Jawa Timur, merupakan kawasan terbesar di dunia yang bersifat asam. Belerang (sulfur) yang terus menerus diproduksi kawah ini dan bercampur dengan air hujan, menghasilkan danau di dasar kawah yang memiliki derajat keasaman sangat tinggi, hingga pH-nya nyaris 0. Tubuh manusia pun dapat langsung larut dalam kondisi seperti ini. 



Di ketinggian 2.600 m di atas permukaan laut, kawah ini menghasilkan puluhan ribu ton belerang. Potensi yang sangat besar ini dimanfaatkan masyarakat sekitar secara tradisional. Minimnya infrastruktur dan terbatasnya lapangan pekerjaan, memaksa masyarakat menjadi penambang belerang di tengah kondisi alam yang keras seperti itu.




Seorang penambang belerang harus berangkat dan mulai mengangkut bongkahan belerang dini hari, sekitar jam 3 atau 4 pagi. Ini agar dalam perjalanan, mereka tidak perlu bertatapan dengan teriknya matahari yang memanggang kawasan tak berpohon itu. Dengan begitu, pukul 9 atau 10 pagi mereka sudah selesai bekerja. 



Dengan pakaian sederhana, berupa celana, kaus, dan sepatu bot, dengan berani mereka mendekati kawah penuh kepulan asap. Bagian muka hanya dilindungi kaus tipis untuk sekadar mengurangi asap belerang yang terhirup. Peralatannya tak kalah sederhana, pikulan bambu menjadi andalan untuk mengangkut bongkah-bongkah belerang. 


Pertama-tama, seorang penambang harus turun ke tengah kawah untuk mengambil belerang, sejauh 700 m. Sekali angkut, seorang pekerja tambang mampu mengangkut 70 – 100 kg belerang. Dengan beban seberat ini dan jalan menanjak terjal penuh bebatuan, mereka harus naik menuju bibir kawah. 

Sesampainya di puncak, perjalanan dilanjutkan turun ke lereng gunung menuju pos pengepul, sejauh 3,5 km. Di sinilah, bongkah belerang ditimbang. Masing-masing penambang diberikan upahnya sesuai dengan berat belerang yang mereka bawa. Untuk 1 kg belerang, mereka diberi upah Rp 600. Dalam sehari, total perjalanan yang harus ditempuh seorang penambang 8,2 km. 




Kesejahteraan yang sangat kurang, membuat masyarakat sekitar Kawah Ijen tak punya pilihan lain untuk mencari nafkah. Risiko bahaya yang sangat besar akan terus menjadi keseharian mereka selama tidak ada perhatian dari pihak berwenang. hanya senyum dan tawa yang bisa mereka tunjukkan dibalik kegetiran hidupnya.
miris melihatnya....


0 komentar:

Posting Komentar

About this Blog

Search

About

http://youtu.be/ZMsvwwp6S7Q
Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts

About Me

Foto Saya
Dinda Permatasari
mahasiswi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro Semarang - goldar A Rh + - melankolis plegmatis
Lihat profil lengkapku

cari cari cari